Sejarah Candi Jago yang terkenal bersaudara dengan Kerajaan Singasari!
Candi ini mula-mula didirikan atas perintah raja Kertanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wisnuwardhana, yang mangkat pada tahun 1268. Kemudian Adityawarman mendirikan candi tambahan dan menempatkan Arca Manjusri yang sekarang tersimpan di Museum Nasional. Candi Jago ditemukan Belanda tahun 1834.
Berdirinya Candi Jago, dilatarbelakangi untuk menghormati raja keempat Kerajaan Singosari, Sri Jaya Wisnuwardhana (1248-1268) oleh anaknya yaitu, raja Kertanegara. Kemudian, dalam pupuh 41 gatra keempat Negara kertagama tertulis bahwa Raja Wisnuwardhana menganut agama Syiwa Budha, yakni aliran keagaaman campuran antara Hindu dan Budha.
Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, Candi Jago dibangun selama 12 tahun, yakni dimulai pada tahun 1268 Masehi dan selesai di tahun 1280 Masehi. Kemudian, di tahun 1343 atau pada pemerintahan Kerajaan Majapahit, candi ini direnovasi saat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno oleh Raja Adityawarman yang juga masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit.
Candi Jago juga sering dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk hingga tahun 1359 Masehi, lho, guys. Adapun terdapat hubungan darah antara Raja Hayam Wuruk dengan beberapa raja dari Kerajaan Singosari. Hal tersebut dapat dilihat dari ukiran yang menjadi ciri khas dari candi-candi Kerajaan Singosari dengan bentuk bunga teratai menjulur dari pangkal hingga ke atas.
Candi Jago ini juga mempunyai peninggalan sejarah, salah satunya yaitu Relief. Relief yang terdapat pada Candi Jago antara lain :
- Relief Kresnayana: Relief ini terletak di teras ketiga Candi Jago dan memiliki cerita tentang pernikahan Raja Wisnuwardhana dengan Naraya Waningyun.
- Relief Kunjarakarna: Relief ini berada pada bagian timur laut Candi Jago dengan kisah yang didasarkan dalam cerita Budha Mahayana yakni, tentang raksasa (Kunjarakarna) yang bertapa di Gunung Semeru yang berharap mengalami reinkarnasi menjadi manusia dengan paras rupawan.
- Relief Pancatantra: Relief ini bercerita tentang seorang brahmana yang mendarmakan ilmu kehidupan dan kebijakan kepada tiga pangeran yang tidak bisa mendengar. Ilmu ini disebut Pancatantra atau terdiri dari lima ajaran, yakni:
- Mitrabedha (Perbedaan);
- Mitraprapti (Kedatangan);
- Kakolukiya (Peperangan & Perdamaian);
- Landhansa (Kehilangan & Keberuntungan);
- Apariksitakaritwa (Tindakan Terburu-buru)
- Relief Fabel: Relief ini terletak pada bagian sisi kiri kaki candi yang berada di barat laut. Seperti penamaannya, relief ini menceritakan mengenai binatang yang terdiri dari beberapa panel. Salah satunya ialah cerita tentang seekor kura-kura yang ingin bisa terbang. Kura-kura tersebut dibantu oleh burung bangau dengan cara membawa ranting dengan kakinya yang selanjutnya akan digigit kura-kura selama terbang nanti.
Comments
Post a Comment